Minggu, 01 Januari 2012

Harap




Raga yang mulai lelah
Gontai berjalan kian pelan dan tanpa arah
Keringat, darah bercucuran
Membasahi tiap langkah


Namun besarnya penderitaan
Tidaklah mungkin mampu menggugurkan tiap kewajiban
Kecuali tlah purna terlaksana
Meski dengan keringat, dan tetes darah


Entahlah
Nyatanya hingga kini kumasih mampu berdiri

Semoga di hari hari nanti
Masih dapat kujumpai senyum itu disetiap pagi
Ibu, ayah, kamu, tetaplah tegar menanti
Read More..

Minggu, 28 November 2010

JALAN HIDUP





Seorang pejuang yang paling diburu tentara elit istana akhirnya tertangkap hidup. Ia tertangkap setelah beberapa panah menembus kaki kiri dan kanannya. Namun begitu, tangan kakinya tetap dirantai dengan gembok baja.

Sepanjang perjalanan dalam gerobak kayu yang membawanya menuju istana, sang pejuang tidak menampakkan sedikit pun takut dan penyesalan. Kerumunan rakyat yang secara kebetulan berpapasan dengan iring-iringan tentara dan tawanan sang pejuang menatapinya dengan berbagai rasa. Terbersit di telinga sang pejuang suara rakyat yang berbisik ke sesama mereka, “Kasihan, ya!”

Mendapati tawanan sang pejuang sudah tiba di istana, raja begitu gembira. Ia berjanji akan memberi hadiah kepada pasukan elitnya. Saat itu juga, berita gembira itu pun disampaikan sang raja ke seluruh menterinya. “Besok, ia akan dihukum pancung karena berani menentangku!” teriak sang raja bersemangat.

Salah seorang menteri yang masih kerabat dengan sang pejuang yang ditawan, meminta izin untuk bertemu untuk terakhir kalinya. Ia begitu prihatin melihat keadaan kerabatnya yang begitu mengenaskan. Sambil berbungkuk, sang menteri berbisik, “Saudaraku, kenapa kau tidak berpura-pura mengakui kekuasaan sang raja. Kalau kamu tetap keras seperti ini, esok kamu akan dihukum mati!”

Sang pejuang yang terkulai lemas pun tiba-tiba menatap tajam kerabatnya. “Saudaraku, semua yang hidup di dunia ini pasti akan mati. Tapi perhatikanlah, tidak semua yang akan mati itu, benar-benar hidup!” ucap sang pejuang sambil tetap menatap tajam kerabatnya.
**

Hidup adalah arena pertarungan antara yang hak dan batil. Pertarungan antara idealisme sebuah kebenaran dengan tuntutan syahwat kemanusiaan. Di situlah, Allah menguji orang-orang beriman dan para aktivis kebenaran: apakah fitrah, nurani, dan jiwa mereka bisa tetap bertahan hidup dalam ruh yang mulia?

Apa yang ingin disampaikan sang pejuang ketika akan berhadapan dengan kematian adalah, ”Saudaraku, hidup bukanlah sekadar bersatunya nyawa dan jasad. Hidup adalah ketika nurani kita bisa tetap konsisten untuk memilih mana yang hak dan mana yang batil, mana kemuliaan dan mana kehinaan?” (muhammadnuh@eramuslim.com)

Read More..

KENAPA HATI




Hati,
Kenapa bertemu disaat begini
Saat saat kesendirian menghampiri

Hati,
Kenapa harus begini
Mengoyak hati atas prinsip yang ingin kuyakini

Hati,
Kenapa seolah memberi hati
Disaat semua terasa pergi

Hati,
Kenapa selalu samar begini
Padahal ku takmampu mengartikan setiap getaran ini

Hati,
Kenapa seolah engkau peduli
Pdahal bukan sanak, bukan saudari


Hati,
Kenapa selalu ingin bersama
Padahal bukan sepasang sejiwa

Hati,
Kenapa tiba tiba pergi
Padahal hati menunggu disini

Hati,
Kenapa lari
Padahal dahaga ini belum terobati

Hati,
Kenapa selalu datang dan pergi
dan selalu menyisakan luka hati

Hati,
Sebaiknya engkau pergi
Karena aku tak ingin ada sakit lagi

Hati,
Janganlah engkau datang lagi
Biarlah hati sendiri disini

Hati,
Aku ingin kembali
Kembali pada kebenaran sejati yang kuyakini

Hati,
Aku ingin hidup dalam kebenaran sejati
Kebenaran yang datang dari Ilahi

Hati,
Dengan keyakinan ini
Mampukah aku menjaga hati hingga nanti,
Dari hati hati yang silih berganti

Hati,
Bagiku hati itu suci
Harus dijaga, dan dipertanggung jawabkan di hadapan Ilahi

Hati,
Akan kujaga engkau sampai nanti
Dan akan pasrahkan hanya pada dia yang pula menjaga hati

Hati,
Akan tetap kujaga hingga nanti
Hingga datang dia yang juga menjaga hati
Unruk bersama sama, menghadapkan hati pada Illahi

Hati,
Akan kujaga keyakinan ini
Semoga semua halang dan rintang tidak akan menjatuhkan hatiku lagi




Kutulis atas hati hati samar yang seolah tiada henti mengoyak keyakinan...
SBY 28 Nop 2010

Made By : Areyes
Inspired by : Raemawati
Read More..

Sabtu, 24 Juli 2010

KISAH LIMA EKOR AYAM



Suatu ketika terdapatlah lima ekor ayam. Ayam tersebut diasuh oleh ayam lainnya yang lebih dewasa. Lama diasuh oleh ayam dewasa, ayam ayam tersebut menjadi semakin akrab sehingga sudah seperti saudara sendiri. Karena sering bersama sama merasakan suka dan duka, ayam ayam tersebut juga semakin solid. Ayam dewasa ini memang sungguh hebat, tidak lama mengasuh, ayam ayam kecil yang tadinya bukan apa apa, kini menjadi ayam ayam yang unggul. Selang waktu berganti, sang ayam dewasa sudah tidak mampu lagi mendampingi ayam ayam kecil yang kini sudah tumbuh menjadi dewasa. Akhirnya sang ayam dewasa harus pergi meninggalkan kandandan ayam ayam yang dulu pernah diasuhnya.
Saat awal awal hidup tanpa sang ayam dewasa, lima ekor ayam ini masih begitu kompak. Mereka selalu bersama sama, kesana dan kemari, mencari makan, dan menahan dinginnya malam bersama sama. Sebenarnya mereka juga cukup sedih karena harus berpisah dengan sang ayam dewasa yang selama ini sudah mengasuh dan mendidik mereka menjadi seperti ini. Namun kehidupan haruslah tetap berjalan. Dengan ataupun tanpa sang ayam dewasa, mereka harus tetap bertahan.


Beberapa waktu kemudian, tiba tiba ada sebuah kotak makanan yang tergeletak di dekat kandang ayam. Si ayam kedua yang pertama kali menemukan kotak makanan tersebut, kemudian ia mengambilnya. Si ayam ketiga yang mengetahui hal tersebut, segera melapor kepada ayam ke empat. Mendengar hal itu, si ayam ke empat marah besar kepada ayam kedua karena menyangka bahwa si ayam kedua berusaha menyembunyikan kotak makanan yang ia temukan, padahal sebenarnya si ayam kedua hanya belum sempat mengatakan saja. Tapi karena si ayam ke empat sudah terlalu emosi, akhirnya pertengkaran tidak bisa dihindarkan lagi.
Si ayam pertama yang mengetahui pertengkaran tersebut berusaha melerai mereka, namun karena si ayam pertama ini memang ayam yang paling muda diantara kelima ayam lainnya dan memang ayam kedua dan ayam ke empat ini sedang sangat emosi ,maka sia sialah usaha si ayam pertama untuk melerai mereka. Akhirnya si ayam pertama berinisiatif untuk melapor kepada si ayam tertua, yaitu ayam kelima dengan harapan agar si ayam kelima ini mampu menyudahi pertengkaran yang terjadi.
Atas laporan dari si ayam pertama, akhirnya si ayam kelima bertindak juga. Sebagai ayam tertua, dia memutuskan untuk mengambil kotak makanan yang menjadi sumber masalah tersebut begitu saja tanpa memberi alasan yang jelas. Si ayam ketiga puas dengan keputusan tersebut, menurutnya, jika kotak makanan tersebut diambil oleh si ayam tertua, pasti akhirnya makanan itu akan dibagi secara merata, lain halnya jika kotak makanan tersebut dibawa oleh si ayam kedua, karena memang si ayam ketiga masih belum cukup percaya dengan si ayam kedua.
Sekarang malah gantian si ayam pertama yang tidak puas, memang keputusan si ayam kelima ini menghentikan pertikaian antara ayam kedua dengan ayam ke empat. Namun si ayam pertama kecewa karena si ayam kelima mengambil kotak makanan itu begitu saja, bukannya langsung membagikannya kepada kelima ayam yang ada, terlebih lagi si ayam kelima tidak memberikan alasan yang jelas atas keputusannya tersebut. Pada akhirnya si ayam pertama juga marah atas hal itu.
Karena kelima ayam tersebut sedang sama sama marah, akhirnya tidak satupun dari mereka yang saling berbicara, apalagi untuk mencari makan bersama. Hal ini berlangsung selama berhari hari sehingga kelimanya kepalaran dan hampir mendekati kematian.
Pada saat yang sedemikian genting, sang ayam dewasa yang dulu pernah mengasuh mereka tiba tiba saja muncul. Namun kini penampilannya sudah begitu lain hingga sulit dikenali lagi. Sang ayam dewasa kini sudah semakin tua bahkan berjalan saja sudah tertatih tatih. Kemudian sang ayam dewasa bertanya pada kelimanya : “wahai anak anakku, apakah gerangan yang telah terjadi ?”.Namun tidak satupun yang menjawab, mereka semua hanya mengglepar gelepar karena kelaparan.
Akhirnya sang ayam dewasa mengambil kotak makanan yang selama ini menjadi sumber masalah. Mereka semua kaget bukan kepalang setelah mengetahui isi dalam kotak makanan yang selama ini menjadi rebutan, karena ternyata kotak makanan itu kosong sama sekali tidak berisi.
Mengetahui keadaan anak anaknya yang sudah semakin kelaparan, sang ayam dewasa pergi mencarikan makanan untuk anak anaknya yang sudah mulai sekarat. Sebenarnya sang ayam dewasa sudah tidak mampu lagi mencarikan makanan untuk kelima anaknya, namun ia memaksakan dirinya demi anak anak yang selama ini ia asuh dan ia sayangi.
Beberapa waktu kemudian sang ayam dewasa kembali dengan sejumlah makanan yang bisa ia dapat. Tak lama kemudian ia membagikan makanan tersebut kepada anak anaknya, meski sebenarnya ia telah begitu kelelahan karena mencarikan makanan untuk mereka. Setelah memakan makanan yang dibawakan sang ayam dewasa, ayam kelima, kesatu dan ayam ketiga pulih dari laparnya. Namun karena sudah sangat lelah bertikai, akhirnya nyawa ayam kedua dan keempat tidak bisa diselamatkan sekalipun dibawakan makanan kepadanya.
Karena begitu lelahnya, akhirnya sang ayam dewasa juga menghadapi kematiannya. Sebelum menghadapi ajalnya, sang ayam dewasa sempat berpesan kepada anak anaknya :

Wahai anak anakku yang aku cintai, mengapa kalian menjadi seperti ini ?
Wahai anak anakku yang aku cintai, mengapa kalian memperebutkan sesuatu yang kosong dan tidak berisi ?
Tidak cukupkah segala ilmu yang selama ini aku ajarkan ?
Tidak cukupkah segala kebijaksanaan yang selama ini aku contohkan ?
Dan tidak cukup pulakah segala ilmu saling pengertian yang selama ini aku tanamkan ?
Andai saja kalian bisa saling sabar dan mengerti, tentu semua ini tidak akan pernah terjadi…
Andai saja anakku si ayam kedua segera mengabarkan kotak makanan yang ia temukan, tentu semua ini tidak akan pernah terjadi…
Andai saja anakku si ayam ketiga mampu bersabar dan sedikit menahan diri atas apa yang ia lihat, tentu semua ini tidak akan pernah terjadi…
Andai saja anakku si ayam keempat mau menahan diri untuk mendengarkan sejenak penjelasan si ayam kedua, tentu semua ini tidak akan pernah terjadi…
Andai saja anakku si ayam pertama mau lebih percaya kepada si ayam kelima, tentu semua ini tidak akan pernah terjadi…
Andai saja anakku si ayam kelima mau menjelaskan kepada adik adiknya, mengapa ia mengambil begitu saja kotak makanan itu, tentu semua ini tidak akan pernah terjadi…
Wahai anak anakku yang aku cintai, mengapa kalian memperebutkan sesuatu yang kosong dan tidak berisi ?
Andai saja kalian bisa sedikit lebih sabar dan saling mengerti, tentu semua ini tidak akan pernah terjadi…
Maafkan aku wahai anak anakku, inilah saat terakhir kali aku bisa membantumu. Untuk selanjutnya, kalian harus menyelesaikan sendiri masalah masalah yang kalian timbulkan sendiri, dan kalian juga harus bisa mengatasi masalah masalah kehidupan ini sendiri…
Sungguh, aku sangat menyesal atas apa yang telah terjadi pada kalian…
Wahai anak anakku yang aku cintai, mengapa kalian memperebutkan sesuatu yang kosong dan tidak berisi ?
Hahhh… Andai saja kalian bisa sedikit lebih sabar dan saling mengerti, tentu semua ini tidak akan pernah terjadi…

Semenjak kejadian yang amat menyedihkan itu, si ayam pertama, ayam ketiga dan ayam kelima tidak pernah henti didera penyesalan yang teramat sangat. Mereka tidak pernah berhenti menyesali apa yang telah mereka lakukan. Hingga akhirnya wajah mereka menjadi pucat pasi, dan mata mereka menghitam karena tak pernah berhenti menangis.
Beberapa waktu kemudian, ketiga ayam tersebut menemuiku. Mereka menceritakan semua yang mereka alami secara rinci tanpa kurang satu apapun. Diujung ceritanya, ketiga ayam tersebut berpesan :

Ya, begitulah kejadian yang telah kami alami…Andai saja kami bisa sedikit lebih sabar dan saling mengerti, tentu semua ini tidak akan pernah terjadi…
Entah betapa bodohnya kami, mengapa kami memperebutkan sesuatu yang kosong dan tidak berisi ?

Kami harap, kalian bisa belajar dari kejadian yang kami alami. Kami harap, kalian bisa lebih baik daripada kami. Karena jika kalian tidak lebih baik dari kami, lalu apalah bedanya kami sebagai ayam yang tidak bisa berfikir, dengan kalian sebagai manusia yang punya nurani.

Andai saja kalian bisa sedikit lebih sabar dan saling mengerti, tentu semua ini tidak akan pernah terjadi…
Wahai anak manusia yang memiliki nurani, mengapa kalian memperebutkan sesuatu yang kosong dan tidak berisi ?






23 juli 2010
Nasihat dari seorang yang berjuang namun tak merasa berjasa. Dari seorang yang tak ingin pecahnya ALKA. Dari seorang yang ingi kemajuannya….
Untuk adik adik yang tercinta…
Tidaklah perlu tahu siapa, asal kita semua bisa bersabar dan saling mengerti…
Turut berduka atas semua yang terjadi…
Semoga menjadi pelajaran yang akan memperbaiki…
Read More..